Jokowi Minta Dikritik, Warga Dibayangi Buzzer dan UU ITE

Berita9 views

Sementara itu, terkait kritik pedas dan keras, Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mengatakan pemerintah memang membutuhkan hal tersebut. Ia pun mengibaratkan kritik, termasuk dari media massa sebagai jamu.

“Kita memerlukan kritik yang terbuka, kritik yang pedas, kritik yang keras karena dengan kritik itulah pemerintah akan membangun dengan lebih terarah dan lebih benar,” kata Pramono dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional 2021, dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Kabinet, Selasa (9/2).

Terkait keberadaan buzzer, dalam acara diskusi yang digelar Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI-UI) pada September 2020 silam, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Donny Gahral Adian mengakui kehadiran para pendengung partikelir yang kerap bergerilya di media sosial.

BACA JUGA:  Ratusan Petani Simalingkar dan Petani Sei Mencirim Deliserdang Jalan Kaki ke Jakarta Temui Jokowi

“Memang ada buzzer-buzzer swasta, partikelir, yang bekerja sendiri,” kata Donny kala itu.

Ia pun menyatakan ada pula buzzer yang bergerak cepat dan kerap menyerang beberapa pihak ini, kata dia, justru memiliki keterkaitan yang mengarah ke pihak swasta dan oposisi pemerintah. Dinamika pergerakannya pun, kata dia, cukup tinggi.

BACA JUGA:  Sebastião Salgado

Namun dia memastikan hal itu tak berkaitan dengan pemerintah maupun Sang Presiden. Menurut Donny, justru Jokowi tak antikritik dengan pemberitaan yang kerap disampaikan media.

“Justru presiden menegur menteri-menteri dalam berkomunikasi supaya media untuk mendapatkan sumber yang kredibel, jadi tidak medianya yang disalahkan, tapi menterinya diminta untuk diperbaiki,” kata dia kala itu.

sumber: cnnindonesia.com