oleh

Demo Omnibus Law di Medan Berakhir Ricuh, Puluhan Orang Ditangkap

sln70-news.com/ist

MEDAN, sln70-news.com – Aksi unjuk rasa penolakan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja di depan gedung DPRD Sumatera Utara di Jalan Imam Bonjol, Kota Medan, Kamis (08/10/2020), berakhir ricuh. Puluhan mahasiswa dan pelajar ikut serta di dalam demo ikut ditangkap oleh polisi.

Aksi unjuk rasa itu ricuh setelah polisi dilempari botol air mineral dan batu. Polisi membalas dengan menembakkan meriam air (water canon) dan gas air mata setelah memperingatkan massa agar tidak bertindak anarkis dan berunjuk rasa dengan tertib.

Polisi dihujani batu dan aparat langsung membubarkan aksi unjuk rasa yang mulai anarki. Polisi memukul mundur ratusan pendemo dan mereka hamburan lari ke Jalan Kejaksaan di depan Pengadilan Negeri Medan, Jalan Balai Kota, hingga ke depan Lapangan Merdeka, Medan.

Ratusan polisi menjaga dan menahan puluhan mahasiswa dan pelajar kemudian menggiring mereka ke dalam gedung DPRD Sumatera Utara untuk diperiksa.

Sejumlah anggota DPRD mencoba menenangkan situasi yang sudah memanas. Parlaungan Simangungson dari Fraksi Demokrat para peserta unjuk rasa untuk bisa menjaga ketertiban. “Silakan berorasi dan menyampaikan aspirasi. Apa yang disampaikan, akan kami teruskan dan sampaikan ke DPR RI,” ujarnya.

Parlaungan menegaskan bahwa Partai Demokrat menolak pengesahan UU Omnibus Law Cipta Kerja. Namun, saat berbicara bersama pendemo, lemparan botol air mineral mengarah ke anggota DPRD Sumut itu. “Tolong jangan anarkis, sama-sama kita jaga keamanan di Kota Medan,” katanya.

Massa Melempari Batu

Awalnya aksi berjalan tertib. Ribuan orang terlihat memadati ruas Jalan Imam Bonjol dan Kapten Maulana Lubis. Satu jam kemudian, demo berubah anarkis. Massa mulai melempari gedung DPRD Sumut dan DPRD Medan yang letaknya bersebelahan.

Amatan dari gedung DPRD Medan, pendemo juga terlihat menggoyang-goyang pintu gerbang dan memanjatnya. Akhirnya aksi balasan dilakukan pihak sekuriti DPRD Medan yang dilengkapi alat pelindung kepala dan pentungan.

Pendemo terus melempari dengan batu, suasana begitu mencekam. “Batunya besar-besar,” kata petugas kepolisian.

screnshoot/ist/sln70-news.com

Sampai pukul 13.51 WIB, massa terus melempari aparat kepolisian dengan menggunakan batu. Bahkan seorang aparat polisi wanita (polwan) terkena lemparan batu.

Massa kembali menyerang dari Jalan Kapten Maulana Lubis, tepatnya di sebelah Hotel Grand Aston. Ratusan aparat kepolisian yang dilengkapi alat pengaman mencoba menghalau massa meski tetap berhati-hati terkena lemparan. Polisi juga menembakkan gas air mata meski situasi dihujani batu.

“Dua pengunjuk rasa tadi ada diamankan polisi,” kata Nizar, PNS Bagian Umum Sekretariat DPRD Medan.

Sementara bala bantuan dari aparat kepolisian untuk menetralisir suasana mulai berdatangan dengan menggunakan mobil khusus. Petugas lainnya terus memblokade pengamanan gedung DPRD Medan dan DPRD Sumut aset negara lainnya. Kabar terakhir, ada lima pendemo yang melempari diamankan polisi. Di persimpangan Jalan Kapten Maulana Lubis/Balai Kota, massa pendemo terlihat masih berkumpul.(adl)

Berikut video aksi pendemo melempari batu

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed