Mahasiswa UDA Demo Tuntut Kepastian, Pasca Akreditas Kampus Dicabut

Berita17 views

MEDAN, sln70-news.com – Puluhan mahasiswa Universitas Darma Agung (UDA) menggelar aksi demonstrasi di depan kampus, Jalan Dr. TD Pardede, Kelurahan Petisah Hulu, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, Rabu (26/8/2026).

Aksi ini dipicu pencabutan akreditasi UDA oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada 7 Juli 2026 yang menjadikan kampus milik keluar DR TD Pardede itu berstatus tidak memenuhi syarat peringkat (TMSP) akreditasi.

Dalam aksi yang digelar di terik matahari, para mahasiswa menuntut tiga hal yang membuat suasana makin memanas.

Kordinator Aksi Daniel Sinaga dalam orasi yang disampaikan di depan gedung Sekretariat Biro Rektor menuntut Kejelasan Status dan Layanan Akademik

“Kepada bapak Rektor dan Ketua Yayasan aksi kami ini untuk meminta kepastian kelanjutan kuliah, proses wisuda yang tertunda, serta pencabutan hambatan administratif akibat dualisme Yayasan Perguruan Darma Agung (YPDA),” katanya dengan nada penuh emosi.

BACA JUGA:  Poldasu Tangkap 3 Polisi Gadungan Peras Anggota DPRD Lewat Medsos

Kemudian, katanya, mahasiswa menolak adanya pungutan biaya pindah ke kampus lainnya sebesar Rp2 juta.

“Kami bukan sapi perah, jangan ada pungutan uang Rp 2 juta yang dibebankan kepada mahasiswa saat mengurus surat rekomendasi atau izin pindah ke perguruan tinggi lain,” tegasnya lagi.

Selain itu, katanya lagi, para mahasiswa menuntut pengembalian uang kuliah yang telah disetorkan kepada pihak yayasan yang berkonflik apabila hak akademik mereka tidak diproses.

“Kami orang miskin. Jangan persulit mahasiswa dengan urusan administrasi perpindahan kampus,” tegasnya.

Kekecewaan memuncak ketika tak ada pihak yayasan yang menemui. Mahasiswa bahkan menuding yayasan yang bertikai justru membuat mahasiswa jadi korban.

“Jangan kami, mahasiswa yang dibodoh-bodohi. Ini kami yang terlalu pintar atau pihak yayasan yang bodoh yang coba mengangkangi hak-hak mahasiswa,” ujar orator lainnya dengan suara lantang.

BACA JUGA:  Banjir Rendam Delapan Desa di Konawe Utara

Agar aspirasi didengar, mahasiswa membakar ban di badan jalan. Akibatnya, akses jalan di kawasan aksi sempat ditutup oleh pihak kepolisian.

“Jangan diam saja di dalam. Keluarlah Pak Suryadi, temui kami para mahasiswa di sini,” seru massa aksi.

Hingga aksi selesai, tidak ada perwakilan Yayasan UDA yang keluar dari gedung rektorat untuk menemui mahasiswa.

Bagi mereka, ini bukan soal demo. Ini soal hak untuk melanjutkan kuliah tanpa dipersulit.

Amatan wartawan, lselain membakar ban bekas mahasiswa juga memampangkan berbagai poster bertuliskan ‘Mahasiswa Jadi Korban Dualisme Yayasan’, Kampus Pemeras dan Kampus Mempersulit Mahasiswa.

Selain kekecewaan terhadap pihak yayasan dan kampus poster bertuliskan ‘Pak Najib Tolong Kami Pak’. (Adl)