oleh

Rumah Tahanan ‘Ciptaan’ Theo

Oleh : Wikoe Sapta

Puluhan paket daging qurban, Selasa semalam, mendarat di markas Pewarta, Jalan Medan Area Selatan. Dikhususkan untuk para jurnalis. Saat Idul Adha, 20 Juli.

“Daging qurban ini buat kawan-kawan wartawan dari pak Waka Poldasu IJP Dadang Hartanto. Sebagian besar lagi dari bang Theo,”sebut Chairum Lubis SH.

Nama terakhir, mungkin masih asing di telinga. Tak cuma publik, wartawan pun, sepertinya masih kurang familiar dengan nama itu.

Apalagi wartawan yang ngepos di kepolisian. Tak suka keluyuran (mencari informasi) ke instansi vertikal lain, kecuali kantor polisi.

Theo Adrianus Purba Amd IP SH MH. Keren. Ada 4 gelar ilmu di belakang namanya. Dia-lah Kepala Rutan Kelas 1 Medan. Menjabat sejak 2020 lalu.

Nama Theo sempat tenar di media. Saat dia dimintai keterangan oleh penyidik Polda Sumatera Utara. Namanya terseret ulah oknum dokter Rutan Kelas I Medan, IW, diduga menjual vaksin ilegal.

Theo tak terlibat sama sekali. Bersih. Bahkan ia berkomitmen mendukung polisi mengungkap kasus tersebut. “Walaupun dia pegawai Rutan tapi dia melakukan perbuatan itu sebagai oknum pribadi. Di luar kedinasan tanpa izin dan tanpa sepengetahuan saya,” katanya.

Komitmen Theo tak cuma membantu tugas polisi dan peduli terhadap wartawan. Di Rutan Jalan Pemasyarakatan Tanjung Gusta, pun ia banyak berbuat. Perhatianya kepada 4200 penghuni rutan amat besar.

Theo, selama beberapa bulan disana, membangun air sumur bor dan membuat bak air berkapasitas 10 ton. Dulunya, penghuni rutan selalu kekurangan. Tapi kini berkecukupan bahkan berlebihan akan sumber kehidupan tersebut.

Suasana rutan dibuatnya jadi lebih asri. Ada taman lengkap dengan kolam pengembangbiakan ikan, aquarium ikan hias. Juga penangkaran burung love bird dan taman bermain ramah anak, dengan setiap sudutnya dilengkapi wastafel cuci tangan pendukung protokol kesehatan

Taman itu malah membuat Gubsu Edi Rahmayadi dan kepala kejaksaan negeri Medan, betah berlama-lama disana. Saat mereka melakukan kunjungan dinas.

Gubsu duduk santai di joglo di bawah rimbunnya pepohonan, sambil mendengarkan gemercik air mengalir tang dihiasi kicauan burung lovebird bernyanyi. Gubsu Edy saja merasa nyaman dan betah, apalagi penghuninya.

Sel baru, selain yang sudah ada, pun ia ciptakan. Untuk menambah kamar pembinaan terhadap napi yang melakukan kesalahan selama menjalankan masa hukumannya di rutan.

Untuk menjamin kesehatan warga binaan, Theo melengkapi klinik rutan dengan berbagai fasilitas kesehatan diantaranya penambahan satu set alat praktek dokter gigi modern senilai ratusan juta rupiah bantuan anggota DPRD Sumut dan lainnya, sehingga klinik Rutan 1 Medan mendapat predikat sebagai klinik pratama dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Deli Serdang. Di Kemenkumham Sumut, baru klinik di dua unit pelaksana tehknis (UPT) yang memperoleh predikat tersebut.

Untuk pengamanan, Theo membuat pagar teralis di lantai 3 blok D. Pagar ini berfungsi untuk mencegah tahanan lompat dan bunuh diri.

“Saya ingin membangun kekondusifan di rutan.”

Nah bertepatan Hari Raya Idul Adha, 20 Juli kemarin, Theo menjamu penghuni rutan. Menyantap sate, sop dan kari daging qurban, bersama-sama. Tak ada sekat antara penjaga dan tahanan, belangsung kekeluargaan.

Keberadaan Theo mengingatkan kita pada tayangan TV swasta Bang Napi (Arie Hendrosaputro). Segmen khusus diprogram berita Sergap, beberapa tahun silam.

Tayangan yang berorientasi menyampaikan pesan berkaitan dengan hal-hal kriminal. Theo berperan membina para kriminal itu agar bisa berubah. Dengan menciptakan Rutan lebih manusiawi lewat cara yang humanis.

Komitmennya itu telah pula ia deklarasikan pada Janji Kerja Tahun 2021 dan Pencanangan Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM).

“Rutan Kelas I Medan siap meraih predikat WBK dan WBBM di tahun 2021,”ucap Theo. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed