Pilu, Pria di Asahan Dipasung Selama 20 Tahun Ruangan Sempit, Ini Kisah Deritanya…

Ilustrasi

ASAHAN, sln70-news.com – Pilu, pria ini dipasung selama 20 tahun oleh keluarganya di ruangan sempit ukuran 3 x 1 meter. Kondisinya mengenaskan, ini kisah lengkap deritanya…

Juliadi (46), warga Jalan Merak, Link VII, Kelurahan Lestari, Kecamatan Kisaran Timur, Kabupaten Asahan, Sumut, terpaksa dipasung oleh keluarganya. Pria yang disinyalir mengalami gangguan kejiwaan ini, pun ditempatkan di ruangan khusus berukuran 3×1 meter, di rumah sederhana milik PJKA.

Orang tua Juliandi, Supiandi (71), yang ditemui metro24.co di kediamannya, Selasa (4/8/2020) mengatakan, aksi pemasungan itu demi kebaikan keluarga dan warga sekitar. Karena keterbatasan biaya, membuat Juliadi selama 20 tahun tak lagi dirawat di salah satu rumah sakit jiwa di Medan.

“Lebih kurang ada 20 tahun. Kalau tidak dipasung, keadaan kami, terancam, warga pun terancam. Dulu sempat dirawat di rumah sakit. Cuma sekarang saya sudah pensiun, nenek-kakeknya sudah tidak ada. Sekarang cemana lah daya upaya kami untuk membawa anak kami ini, sementara kami sudah tidak ada biaya lagi membawanya berobat,” tutur Supiandi.

BACA JUGA:  Dukung Akselerasi PEN, Kabareskrim Polri Beri Pengarahan Kapolda dan Direktur Jajaran Reserse

Supiandi pun menceritakan, gangguan jiwa menyerang anak sulungnya ketika duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs). Juliadi diketahui mempelajari sebuah buku. “Waktu SMP dia kan ikut sama neneknya untuk sekolah, dia ada baca buku, dengan empat orang temannya satu sekolah. Ketiga kawannya tidak apa-apa, namun dia kok berubah menjadi gini,” kenang Supiandi.

Selama dua pekan mempelajari buku itu, lanjutnya, Juliadi sering menunjukkan tingkah aneh. Bahkan seperti tak terkendali, kebingunan di kamar, salat sendiri. “Ditanyai cuma diam di kamar. Nggak mau buka pintu, terus tutup pintu,” beber suami dari Misnah (65) ini.

BACA JUGA:  Kerusuhan Madina Berlanjut, 2 SST Personel Brimob Kembali Diterjunkan

Beberapa hari kemudian, Juliadi pun seperti orang hilang ingatan, berjalan mondar-mandir tanpa tujuan. “Setiap harinya masih tetap berangkat ke sekolah, tapi setelah 3 kilometer, dia duduk di atas rel, termenung dia. Kawannya ngajak nggak mau. Kawannya pulang, dia ikut pulang,” katanya.

Dia berharap pemerintah atau pun dinas terkait mau memberikan perhatian, agar Juliadi bisa mendapat perawatan yang layak. “Ya macam manas baiknya. Kami saat ini hanya bisa pasrah saja,” lirih Supiandi.

sumber: metro24.co