Pulung Gantung ternyata memiliki kaitan dengan perjanjian Ki Ageng Giring dan iparnya Ki Ageng Pamanahan dan disaksikan oleh Nyi Ageng Giring.
Kala itu, Ki Ageng Pemanahan meminum air kelapa milik Nyi Ageng Giring yang berisi Wahyu Keprabon, sesuatu yang mestinya dimiliki oleh Nyi Ageng Giring dan keturunannya untuk menjadi Raja di Jawa.
Namun, akhirnya wahyu keprabon berpindah tangan ke keturunan Ki Ageng Pamanahan. Peristiwa itu membuat marah Nyi Ageng Giring.
Ia lalu melakukan tapas dan menjalankan Kapalika Tantra yang meminta kepala manusia sebagai persembahannya.






