oleh

Duri Musang King

-TRAVEL-0 views

Oleh: Wiku Sapta

Bulan ini adalah bulan dimana buah durian membanjiri pinggiran jalan Kota Medan. Dijual bebas. Ada yang digelar pakai karpet di trotoar jalan, ada pula dalam bak mobil terbuka (pick up).

Harganya murah meriah. Rp35.000 per buah. Bisa nego. Jika pintar menawar, bisa dapat 2 buah durian seharga Rp50.000. Tapi buahnga kecil. Wanginya semerbak. Bikin selera mencicipinya.

Sebelum tawar menawar harga pas tancap gas, seleksi dulu isinya. Karena banyak buah duriah yang dijual, masih mengkal. Matang nggak, mentah juga tidak. Daging buahnya separuh keras. Tak lunak dan lembut.

Tadi malam, saya beli dua buah. Di kawasan Kampung Baru Jalan Beigjen Katamso. Hanya beberapa meter dari Komplek Rispa.

Katanya durian dari Sidikalang. Penjualnya, dua orang laki-laki. Logatnya kental Aceh. Mereka berjualan di atas mobil bak terbuka.

Durian yang saya beli, rencana akan dibuat kolak duren. Hmmm pasti lezat dan nikmat, jika sudah dimasak. Istri berinisiatif membuatnya, karena memang saya lagi kepengen.

Dari dua buah durian itu, saya pilih rasa yang berbeda. Yang satu manis, satunya lagi pahit (tak segetir hidup ini). Kesukaan saya, rasa pahit. Setelah menawar, durian kampung itu kami bawa pulang.

Di rumah, durian langsung saya belah. Saya ingin buru-buru menelan buah yang dagingnya lunak itu dan menghabiskannya.

Tapi dilarang. Saya hanya diperbolehkan mencicipi 1 buah saja. Padahal, sejak dijalan menuju rumah, saya sudah mengkhayal menikmati kelezatannya.

Saya ingin membandingkan rasa durian kampung dengan Musang King yang tenar itu. Durian asal Malaysia, yang lagi hits itu. Tapi jujur, belum pernah sekalipun saya tahu rasa Musang King kayak apa.

Dari yang saya baca, Musang King punya citarasa tersendiri. Lezat. Buahnya berwarna kuning kunyit. Dagingnya tebal. Durian Indoneisa kalah saing lah pokoknya. Perbuah harganya seratusan ribu lebih.

Di dua gerai buah durian ternama di Medan, mungkin ada menjual Musang King. Tapi saya belum berani kesana. Bukan karena ketiadaan fulus, tapi karena status PPKM level darurat.

Ada larangan jika makan disitu. Gerai hanya diperbolehkan melayani take away.

Saya pun berangan-angan kapan bisa menikmati Musang King. Ups saya jadi teringat cerita seorang guru rasa kawan di Jawa Barat. Kini, beliau mengembangkan ribuan pohon durian Musang King di sebuah lahan.

“2 atau 3 tahun lagi lah baru panen,”katanya berpromosi.

Lahan durian itu bukan miliknya. Tapi kerjasama antara koperasi dengan petani. Sebagai usaha meningkatkan perekonomian rakyat sekitar.

Selain kerjasama mengenbangkan durian Musang King, dia juga mengaku sudah menjalin kerjasama dengan Kementrian Pertanian melalui Kantor Besar Balai Benih Air Tawar dengan usaha ikan dan pertanian jahe.

“Kita juga sudah didampingi oleh PPL pertanian,”tambahnya.

Dia juga bercita-cita kelak akan mengembangkan Musang King, hingga ke Sumatera Utara.

“Lahan di Taput, Labusel dan Labura, berpotensi menjadi sentra durian Musang King dan Duri Hitam. Bisa kalah Malaysia kalau kita kembangkan disana,”ucapnya.

“Tapi nanti setelah berhasil disini (Jabar), baru kita kembangkan ke Sumut,”tambahnya.

Apalagi saat ini, Malaysia sedang melakukan pembersihan kebun durian di lokasi hutan lindung. Banyak pohon-pohon masyarakat ditebangi.

“Ini kesempatan kita untuk mengejar produksi durian Musang King mereka,”ucapnya optimis.

Menurutnya, peluang market Musang King sangat besar dan sudah ada. Jadi tak perlu melakukan riset untuk mengembangkan durian lokal. Untuk menyaingi durian di negeri jiran.

“Kecuali dari sekarang kita lakukan riset terus menerus.”

Di Jabar, perhatian pemerintah cukup besar terhadap petani durian. Pemerintah setempat mendukung dengan langsung mendatangkan PPL gratis, menyiapkan bibit dan alat buat pupuk.

Semoga saja Gubernur dan para bupati disini, di Sumatera Utara ini, tak abai peluang pasar Musang King ini. Karena hampir 20 tahun, kasta rasa durian Indonesia ‘dijajah’ Malaysia.

Mencium aroma Musang King saja sebuah peristiwa langka, konon pula mencicipi rasanya. (**)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed