oleh

Waspadai Gigitan Nyamuk DBD Pagi dan Sore Hari

Pasien penderita demam dengue akhirnya menderita demam berdarah dengue (DBD) dalam 3-7 hari.

JAKARTA, sln70-news.com – Nyamuk Aedes Aegypti atau nyamuk demam berdarah (DBD) memiliki perilaku mengigit pada pagi dan sore hari. Diharapkan masyarakat waspada terhadap ancaman DBD, karena Kementerian Kesehatan mencatat kasus ini cukup tinggi hingga Juni.

Ahli infeksi dan pedriati tropik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dr Mulya Rahma Karyanti, SpA(K) mengatakan,
Nyamuk dengan ciri khas kaki berwarna hitam dan putih ini mengigit antara antara jam 10 sampai jam 12 siang.

Gigitan nyamuk bisa menyerang semua kelompok umur. Saat ini kecenderungan yang terjadi banyak kasus DBD menyerang kelompok umur remaja.

“Dia senangnya gigitnya pada pagi hari, antara jam 10 sampai jam 12 di masa anak-anak lagi sekolah. Kadang-kadang kenanya di situ. Sama sebelum Magrib ya, jam 4 sampai jam 5 sore,” kata dr Mulya pada saat dialog di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, Senin (22/6)

Dia pun menekankan pada upaya pencegahan dengan 3M. “Yang penting, membersihkan tempat berkembang biaknya di air bersih,” ucapnya.

Ia menyampaikan tempat genangan air yang sering di rumah tangga seperti pot-pot bunga untuk dikeringkan.

“Minimal satu kali dilakukan, satu kali seminggu dengan menguras bak mandi, 3M tadi, itu memutuskan dari nyamuk jentik menjadi dewasa,” jelasnya lagi.

Selain itu, demam pada anak perlu diwaspadai para orang tua, karena ini salah satu gejala DBD. Apabila menemui kondisi ini, penderita meminum air dan jangan sampai dehidrasi.

“Awasi asupan minum, kedua awasi buang air kecilnya, normal biasanya kalau cukup asupan cairannya, dia 4 sampai 6 jam harusnya buang air kecil, dan awasi aktivitasnya,” pesannya.

Namun, apabila gejala semakin memburuk seperti muntah terus menerus dan tidak buang air lebih dari 12 jam, kita perlu berhati-hati dan penderita segera mendapatkan perawatan medis.

Ditambahkannya, gejala pada DBD lebih demam dan pendarahan kulit yang perlu diwaspadai, seperti mimisan, gusi berdarah atau memar. Biasanya penderita DBD mengalami panas mendadak disertai muka merah, nyeri kepala, nyeri di belakang mata, muntah-muntah dan biasanya bisa disertai pendarahan.

“Itu yang tidak ada pada COVID, pendarahan spontan, mimisan, gusi berdarah, atau timbul bintik-bintik merah di kulit, itu bisa terjadi,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan apabila penderita DBD pada hari ketiga panas tidak turun-turun, penderita harus meminum air. “Jadi, kalau hari  ketiga dia kurang minum, akhirnya pasti ada gejala-gejala tanda bahaya, _warning sign_ kita sebutnya,” ucapnya.

Panas tinggi menunjukkan infeksi virus tinggi di dalam tubuh penderita. Suhu badan bisa mencapai 40 derajat. “Nah, kalau demam 2 sampai 3 hari tidak membaik, segera ke rumah sakit,” kata Dokter Mulya.

Bahaya lain dapat diamati melalui gejala berupa sakit perut, letargi atau lemas, pendarahan spontan, pembesaran perut, hati dan ada penumpukan cairan. Penderita yang mengalami kondisi tersebut bisa berdampak pada fase kritis. (adl)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed