“Hanya saja lebih agresif. Saya memenangkan pertarungan, saya memenangi ronde pertama dengan baik, lawan saya mengalami patah hidung dan butuh operasi keesokan harinya, dan saya pikir akan menang,” ucap Barbosa menambahkan.
Meski merasa mendominasi ronde pertama, namun suasana berbeda dirasakan Barbosa pada ronde kedua. Barbosa akhirnya menyerah dan tidak melanjutkan pertarungan.
“Serangkaian hal terlintas dalam pikiran saya. Saya punya seorang putra, saya punya keluarga. Dia membunuh saya bukanlah ketakutan terbesar saya, karena akibatnya akan sangat besar,” tutur Barbosa.
“Tetapi saya tidak tahu, orang-orang di sana agak rumit. Ini rumit, singguh,” kata Barbosa melanjutkan.
Barbosa juga menceritakan setiap peristiwa yang dialami selama di Afganistan. Selain datang dari Brasil sendiri tanpa ditemani manajernya yang positif Covid-19, Barbosa juga menyebut terjadi ledakan di negara tersebut.
“Wilayah itu masih berperang, serangan teroris sedang terjadi, dan orang-orang sudah terbiasa dengan hal itu. Sebuah mobil meledak saat saya di sana, dan mereka hanya mengisolasi jalan, tentara berputar ke jalan itu, dan hanya itu,” ucap Barbosa.
Sementara itu, CEO TGFC Abdul Wasi Sharifi mengaku tidak pernah dberitahu Barbosa soal ancaman pembunuhan itu.
“Leonardo tidak pernah memberi tahu tami ketika kami sampai di hotel dan sebelum ke arena. Tidak pernah bicara dengan saya, jadi baru hari ini saya mendengar cerita ini,” kata Sharifi.
“Kami setuju dengan pertarungan ulang di Dubai. Dia mengatakan, bukan kesalahan lawan, hotel, dan promotornya,” ujar Sharifi menambahkan.
sumber: cnnindonesia.com






