Playboy Akan Melantai di Bursa

EKONOMI6 views
Playboy akan melantai di bursa. Ilustrasi. (AFP/Charley Gallay).

JAKARTA, sln70-news.com – Salah satu brand lifestyle asal Amerika Serikat (AS) Playboy pada Kamis (1/10) mengumumkan niat mereka untuk menjadi perusahaan publik setelah hampir 10 tahun absen dari pasar saham. Ini akan diperdagangkan di Nasdaq di bawah simbol “PLBY.”

Jelang rencana itu, mereka merger atau bergabung dengan Mountain Crest Acquisition, sebuah perusahaan akuisisi dengan kesepakatan US$415 juta.

Seperti diketahui, Playboy menggambarkan dirinya sebagai salah satu merek gaya hidup terbesar dan paling dikenal di dunia yang menjual berbagai macam barang mulai dari produk kesehatan seksual, pakaian bermerek, dan bahkan lini barang rumah tangga.

BACA JUGA:  Komite Ekonomi Kreatif Kota Medan Buka 2 Kelas Pengajaran, #yokbikincantikmedan & Kelas Pra Kerja

Entitas bisnis yang hilang dari brand tersebut adalah majalah. Tapi, majalah tersebut berhenti terbit pada Februari lalu setelah sempat beredar selama 66 tahun.

Padahal lini bisnis itu pernah berpengaruh.

“Playboy saat ini adalah bisnis perdagangan yang sangat menguntungkan dengan total pasar yang dapat dialamatkan yang diproyeksikan dalam triliunan dolar,” kata CEO Ben Kohn dalam sebuah pernyataan seperti dikutip CNN.com, Jumat (2/10).

Playboy menjadi perusahaan terakhir yang menggunakan SPAC untuk go public. Mereka bergabung dengan Virgin Galactic (SPCE), perusahaan perjudian olahraga DraftKings dan rival truk listrik Lordstown, Nikola.

BACA JUGA:  Sikapi Jual-Beli di Pasar, Ketum IKAPPI: Pasti Aman dengan Protokol Kesehatan

Banyak perusahaan swasta lebih suka bergabung dengan perusahaan cek kosong daripada melalui proses yang memakan waktu dan mahal untuk mengumpulkan uang melalui penawaran umum perdana yang lebih tradisional. Itu terutama terjadi selama pandemi virus corona.

“Covid-19 telah mempercepat metode ini karena ada ketidakpastian yang berkurang dan waktu yang lebih cepat untuk menutup transaksi,” kata Bob Blee, kepala keuangan perusahaan di Silicon Valley Bank.

sumber: cnnindonesia.com