oleh

Menyapa Orang Utan di Bukit Lawang dengan Menembus Hutan Hujan Tropis

-SATWA, TRAVEL-12 views

BUKIT LAWANG, sln70-news.com – Berkunjung ke alam Bukit Lawang sudah menjadi tujuan wisata andalan di Leuser, karena memiliki daya tarik satwa langka Orang utan Sumatra semi liar dan panorama hutan hujan tropis.

Ujung areal ini adalah gerbang Taman Nasional Gunung Leuser tempat “feeding”, sekarang lebih dikenal sebagai pusat pengamatan Orang utan. Berada di Desa Perkebunan Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat Provsu, dengan memiliki luas 200 ha.

Hutan tropis yang lebat serta sungai berair sejuk yang berhulu di perbukitan Leuser, merupakan tempat keluarga Orang utan Sumatera melanjutkan hidupnya. Semakin ke dalam mendekati kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), ada beberapa penginapan.

Di situ pula, upaya untuk mempertahankan keberadaan primata yang jumlahnya terus menyusut. Dulunya Bukit Lawang merupakan pusat rehabilitasi Orang utan jinak untuk dilepasliarkan kembali ke alam.

“Waktu pemberian makan Orang utan konservasi dilakukan mulai pukul 09:00 WIB dan 15:00 WIB, setiap harinya,” kata Brazil saat membawa kru sln70-news.com menyapa Orang utan, belum lama ini.

Sejarah keberadaan Pusat Rehabilitasi Orang utan ini berawal dari program, yang dijalankan oleh WWF dan Frankfurd Zoological Society pada tahun 1973. Sekarang sudah menjadi pusat pengamatan Orang utan.

BACA JUGA:  Warga Bersama Relawan Reptil Tangkap Buaya Muara di Aliran Sungai Deli 

“Orang utan di alam liar ada yang bersifat pemalu dan cenderung menghindari manusia. Sebagian agresif dan ada beberapa punya ketertarikan pada makanan pengunjung. Terkadang, Orang utan mau merampas tas milik pengunjung,” ucap pria berbadan tegap itu lagi.

Untuk melihat Orang utan di alam liar, akan lebih puas bila dilakukan trekking atau melakukan perjalanan kaki dengan menembus hutan. Ini menjadi kegiatan yang memungkinkan wisatawan menemukan beragam satwa khas hutan hujan tropis, mulai dari aneka ragam kupu-kupu, siamang, beruang madu dan kambing hutan.

Selain melihat Orang utan Sumatera juga ada satwa lainnya seperti kedih (presbytis thomasi), gibbon, kera ekor panjang (macaca fascicularis), dan burung rangkong. Selain itu juga dapat dijumpai beberapa jenis tumbuhan seperti kantong semar, meranti, keruing, damar laut, anggrek hutan, rafflessia, bunga bangkai, cendawan harimau.

“Kalau untuk lebih puas melihat Orang utan, bisa ditemui saat melakukan trekking sekitar 2,5 sampai 3,5 jam ke dalam rerimbunan hutan. Tetapi harus dilakukan atas panduan guide yang biayanya dihitung per hari. Kegiatan ini masih didominasi turis mancanegara,” ujarnya lagi merayu untuk melakukan trekking.

BACA JUGA:  Harimau Berkeliaran di Sekitar Gunung Sibayak

Perjalanan ini menjadi pengalaman yang menyenangkan, dengan menaiki dan menuruni lembah, memanjat di antara akar tunggang, menapaki tanah campuran pelapukan flora dan menyeberangi aliran sungai-sungai kecil.

Beruntung tim bersama rombongan menemui Orangutan di titik yang memang dijadikan lokasi tempat memberi makannya. Para wisatawan dari dalam dan luar negeri terlihat sibuk memotret dua Orang utan yang diberi nama Mina dan Pesek (anaknya).

Diakui, keindahan panorama alam Bukit Lawang dengan sungai yang jernih menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung. Ditambah lagi dengan kegiatan wisata lainnya seperti mengarungi jeram Sungai Bohorok memakai ban (tubbing) dan rubber boat, menikmati keindahan air terjun dan menjelajahi gua.

Apabila ingin menyegarkan badan, pengunjung bisa langsung mandi di aliran sungai yang jernih. Apalagi sambil berkemah di areal camping ground, bisa berpetualang dan menyingkap rahasia hutan hujan tropis sumatera, sekaligus menyaksikan atraksi budaya masyarakat yang beragam serta menikmati kuliner khas lokal.

Seperti diketahui, mata pencaharian masyarakat di Bukit Lawang umumnya adalah petani dan pedagang. Budaya di Bukit Lawang heterogen, tidak ada yang dominan antara suku Melayu, Karo, Jawa dan Batak. (adl)