Kasus HIV/AIDS Terus Meningkat, Pria 3M Banyak Terpapar

KESEHATAN6 views
Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi menerima audiensi Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Sumut di Rumah Dinas Gubernur, Jalan Jenderal Sudirman Nomor 41, Medan, Senin (25/1).

MEDAN, sln70-news.com – Kasus HIV/AIDS terus meningkat setiap tahun, bahkan saat ini, secara kumulatif jumlahnya sudah mencapai 20.000 kasus di Sumatera Utara (Sumut). Untuk itu diperlukan penanganan serius, terutama dalam upaya pencegahannya.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi saat menerima audiensi Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Sumut di Rumah Dinas Gubernur, Jalan Jenderal Sudirman Nomor 41, Medan, Senin (25/1).

Menurut Gubernur, upaya penanganan HIV/AIDS perlu didukung semua pihak yang terkait. Pertama yang perlu dilakukan adalah pencegahan. Hal tersebut bisa dilakukan dalam bentuk sosialisasi pemahaman kepada masyarakat.

“Pencegahan itu penting, lewat sosialisasi kita berikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahayanya HIV AIDS tersebut,” ujar Gubernur.

Gubernur juga mengharapkan KPAD Sumut membuat rencana kerja yang lebih konkret dalam hal penanggulangan Aids di Sumut. Target program kerjanya harus jelas, sehingga program bisa dijalankan secara efektif. “Saya minta yang lebih konkret, sehingga kerja bisa efektif,” ujar Edy Rahmayadi.

Ketua Sementara KPAD Sumut, Ikrimah Hamidy mengatakan kasus HIV/AIDS di Sumut didominasi para generasi muda yang berusia 17 hingga 39 tahun. Karena itu, sosialisasi kepada generasi muda sangat penting dan menjadi fokus pihaknya saat ini.

Dikatakannya, peningkatan ini terjadi karena semakin banyak yang terdata di rumah sakit dan puskesmas. Sehingga semua pihak harus serius menangani ini karena dari tahun ke tahun meningkat terus. Apalagi sebutnya penjelasan kepada masyarakat soal haiv dan Aids ini juga masih minim.

BACA JUGA:  Medan Sumbang 47 Kasus Positif Covid-19, Berikut Penyebaran Pasien Corona di Sumut

“Disinilah kami datang ke gubernur untuk mendapatkan dukungan agar dibuat gugus tugas penanggulangan HIV dan Aids. Seluruh guru BP dan BK untuk menjadi ujung tombak sebuah sekolah. Sehingga setiap saat atau setiap Minggu guru itu bisa menerangkan kepada siswa masalah HIV dan Aids ini. Kami akan menjadi mentor untuk menyiapkan guru-guru menjadi mentor di sekolah sekolahnya. Ini kita usulkan kepada gubernur sebagai pencegahan sehingga ribuan sekolah yang ada di Sumut ini dapat tersentuh atas persoalan ini,” katanya.

Ditegaskannya juga, yang paling banyak terpapar di kota Medan sebanyak 60 persen, Ada 6 ribuan kasus di Medan.

“Namun kasus di kota inipun sumbernya dari daerah juga, pasien Daeri daerah yang datang ke kota Medan sehingga terdata disini dan tercatat sebagai pasien HIV dan Aids kota Medan,” ujarnya.

Katanya lagi, kasus tertinggi diakibatkan hubungan seks lawan jenis, suntik narkoba dan homo seksual dan sebaliknya sejenis lainnya. Akibat hubungan seks lawan jenis hingga 70 persen.

BACA JUGA:  Kisah Ayah Terancam Penjara Gegara Tak Rela Anak Kembali Sekolah Tatap Muka

Sehingga Ini dikatakan ikrimah perlu diketahui siswa karena rentang usia terpapar HIV dan Aids antara 17-39 tahun.

“Profesi yang ditemukan ada ASN, TNI, Supir. Jadi yang banyak terpapar itu biasanya pria 3m, men, mobile dan money. Artinya laki laki , punya uang dan mobilitasnya sering di lapangan yang terpapar,” tegasnya

Ia berharap Program yang ditawarkan ke gubernur akan berjalan setelah mendapat lampu hijau dan pihaknya langsung akan membuatkan sistemnya untuk segera diterapkan sehingga bisa melakukan pelatihan secepat mungkin. “Nantinya bukan hanya kepada guru-guru juga kita akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan agar bisa berkoordinasi dengan supir-supir, karena supir masuk dalam kategori 3M

Pihaknya juga berupaya semaksimal mungkin memutus penularan HIV/AIDS. Sehingga pada tahun 2030 target Indonesia Bebas HIV/AIDS dapat terwujud. “Sinergi setiap pihak diperlukan termasuk dukungan pemerintah, agar Indonesai Bebas HIV/AIDS 2030 dapat tercapai,” kata Ikrimah.

KPAD juga mengusulkan kepada DPRD, wacana agar calon pengantin yang akan menikah dipastikan dahulu tidak terinfeksi HIV/AIDS. Namun bukan berarti pasangan tersebut tidak boleh menikah apabila terjangkit. Jika terjangkit, ada protokol yang harus dilakukan pasangan agar anak yang dilahirkan tidak ikut terpapar HIV/AIDS.

sumber: edisimedan.com